Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Maret 2013

Keseimbangan


Dikisahkan, biasanya di hari ulang tahun Putri, ibu pasti sibuk di dapur memasak dan menghidangkan makanan kesukaannya. Tepat saat yang ditunggu, betapa kecewa hati si Putri, meja makan kosong, tidak tampak sedikit pun bayangan makanan kesukaannya tersedia di sana. Putri kesal, marah, dan jengkel.
"Huh, ibu sudah tidak sayang lagi padaku. Sudah tidak ingat hari ulang tahun anaknya sendiri, sungguh keterlaluan," gerutunya dalam hati. "Ini semua pasti gara-gara adinda sakit semalam sehingga ibu lupa pada ulang tahun dan makanan kesukaanku. Dasar anak manja!"
Ditunggu sampai siang, tampaknya orang serumah tidak peduli lagi kepadanya. Tidak ada yang memberi selamat, ciuman, atau mungkin memberi kado untuknya.

Dengan perasaan marah dan sedih, Putri pergi meninggalkan rumah begitu saja. Perut kosong dan pikiran yang dipenuhi kejengkelan membuatnya berjalan sembarangan. Saat melewati sebuah gerobak penjual bakso dan mencium aroma nikmat, tiba-tiba Putri sadar, betapa lapar perutnya! Dia menatap nanar kepulan asap di atas semangkuk bakso.
"Mau beli bakso, neng? Duduk saja di dalam," sapa si tukang bakso.
"Mau, bang. Tapi saya tidak punya uang," jawabnya tersipu malu.
"Bagaimana kalau hari ini abang traktir kamu? Duduklah, abang siapin mi bakso yang super enak."
Putri pun segera duduk di dalam.
Tiba-tiba, dia tidak kuasa menahan air matanya, "Lho, kenapa menangis, neng?" tanya si abang.
"Saya jadi ingat ibu saya, nang. Sebenarnya... hari ini ulang tahun saya. Malah abang, yang tidak saya kenal, yang memberi saya makan. Ibuku sendiri tidak ingat hari ulang tahunku apalagi memberi makanan kesukaanku. Saya sedih dan kecewa, bang."
"Neng cantik, abang yang baru sekali aja memberi makanan bisa bikin neng terharu sampai nangis. Lha, padahal ibu dan bapak neng, yang ngasih makan tiap hari, dari neng bayi sampai segede ini, apa neng pernah terharu begini? Jangan ngeremehin orangtua sendiri neng, ntar nyesel lho."
Putri seketika tersadar, "Kenapa aku tidak pernah berpikir seperti itu?"
Setelah menghabiskan makanan dan berucap banyak terima kasih, Putri bergegas pergi. Setiba di rumah, ibunya menyambut dengan pelukan hangat, wajah cemas sekaligus lega,
"Putri, dari mana kamu seharian ini, ibu tidak tahu harus mencari kamu ke mana. Putri, selamat ulang tahun ya. Ibu telah membuat semua makanan kesukaan Putri. Putri pasti lapar kan? Ayo nikmati semua itu."
"Ibu, maafkan Putri, Bu," Putri pun menangis dan menyesal di pelukan ibunya. Dan yang membuat Putri semakin menyesal, ternyata di dalam rumah hadir pula sahabat-sahabat baik dan paman serta bibinya. Ternyata ibu Putri membuatkan pesta kejutan untuk putri kesayangannya.
=====================================================
Saat kita mendapat pertolongan atau menerima pemberian sekecil apapun dari orang lain, sering kali kita begitu senang dan selalu berterima kasih. Sayangnya, kadang kasih dan kepedulian tanpa syarat yang diberikan oleh orangtua dan saudara tidak tampak di mata kita. Seolah menjadi kewajiban orangtua untuk selalu berada di posisi siap membantu, kapan pun.
Bahkan, jika hal itu tidak terpenuhi, segera kita memvonis, yang tidak sayanglah, yang tidak mengerti anak sendirilah, atau dilanda perasaan sedih, marah, dan kecewa yang hanya merugikan diri sendiri. Maka untuk itu, kita butuh untuk belajar dan belajar mengendalikan diri, agar kita mampu hidup secara harmonis dengan keluarga, orangtua, saudara, dan dengan masyarakat lainnya.
Sumber : andriewongso.com

Nilai Kehidupan

Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.

Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.

"Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini," katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.

Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. "Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini."

Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, "Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya."

Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, "Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini."

Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, "Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain".

Segera timbul kesadaran baru. "Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain".

Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.

=================================================

Kalau kita mengisi kehidupan ini dengan menggerutu, mengeluh, dan pesimis, tentu kita menjalani hidup ini (dengan) terasa terbeban dan saat tidak mampu lagi menahan akan memungkinkan kita mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri.

Sebaliknya, kalau kita mampu menyadari sebenarnya kehidupan ini begitu indah dan menggairahkan, tentu kita akan menghargai kehidupan ini. Kita akan mengisi kehidupan kita, setiap hari penuh dengan optimisme, penuh harapan dan cita-cita yang diperjuangkan, serta mampu bergaul dengan manusia-manusia lainnya.

Maka, jangan melayani perasaan negatif. Usir segera. Biasakan memelihara pikiran positif, sikap positif, dan tindakan positif. Dengan demikian kita akan menjalani kehidupan ini penuh dengan syukur, semangat, dan sukses luar biasa!

Sumber : andriewongso.com dan Cerita Motivasi
Dikisahkan, suatu hari ada seorang anak muda yang tengah menanjak karirnya tapi merasa hidupnya tidak bahagia. Istrinya sering mengomel karena merasa keluarga tidak lagi mendapat waktu dan perhatian yang cukup dari si suami. Orang tua dan keluarga besar, bahkan menganggapnya sombong dan tidak lagi peduli kepada keluarga besar. Tuntutan pekerjaan membuatnya kehilangan waktu untuk keluarga, teman-teman lama, bahkan saat merenung bagi dirinya sendiri.
Hingga suatu hari, karena ada masalah, si pemuda harus mendatangi salah seorang petinggi perusahaan di rumahnya. Setibanya di sana, dia sempat terpukau saat melewati taman yang tertata rapi dan begitu indah.
"Hai anak muda. Tunggulah di dalam. Masih ada beberapa hal yang harus Bapak selesaikan," seru tuan rumah. Bukannya masuk, si pemuda menghampiri dan bertanya, "Maaf, Pak. Bagaimana Bapak bisa merawat taman yang begitu indah sambil tetap bekerja dan bisa membuat keputusan-keputusan hebat di perusahaan kita?"
Tanpa mengalihkan perhatian dari pekerjaan yang sedang dikerjakan, si bapak menjawab ramah, "Anak muda, mau lihat keindahan yang lain? Kamu boleh kelilingi rumah ini. Tetapi, sambil berkeliling, bawalah mangkok susu ini. Jangan tumpah ya. Setelah itu kembalilah kemari".
Dengan sedikit heran, namun senang hati, diikutinya perintah itu. Tak lama kemudian, dia kembali dengan lega karena mangkok susu tidak tumpah sedikit pun. Si bapak bertanya, "Anak muda. Kamu sudah lihat koleksi batu-batuanku? Atau bertemu dengan burung kesayanganku?"
Sambil tersipu malu, si pemuda menjawab, "Maaf Pak, saya belum melihat apa pun karena konsentrasi saya pada mangkok susu ini. Baiklah, saya akan pergi melihatnya."
Saat kembali lagi dari mengelilingi rumah, dengan nada gembira dan kagum dia berkata, "Rumah Bapak sungguh indah sekali, asri, dan nyaman." tanpa diminta, dia menceritakan apa saja yang telah dilihatnya. Si Bapak mendengar sambil tersenyum puas sambil mata tuanya melirik susu di dalam mangkok yang hampir habis.
Menyadari lirikan si bapak ke arah mangkoknya, si pemuda berkata, "Maaf Pak, keasyikan menikmati indahnya rumah Bapak, susunya tumpah semua".
"Hahaha! Anak muda. Apa yang kita pelajari hari ini? Jika susu di mangkok itu utuh, maka rumahku yang indah tidak tampak olehmu. Jika rumahku terlihat indah di matamu, maka susunya tumpah semua. Sama seperti itulah kehidupan, harus seimbang. Seimbang menjaga agar susu tidak tumpah sekaligus rumah ini juga indah di matamu. Seimbang membagi waktu untuk pekerjaan dan keluarga. Semua kembali ke kita, bagaimana membagi dan memanfaatkannya. Jika kita mampu menyeimbangkan dengan bijak, maka pasti kehidupan kita akan harmonis".
Seketika itu si pemuda tersenyum gembira, "Terima kasih, Pak. Tidak diduga saya telah menemukan jawaban kegelisahan saya selama ini. Sekarang saya tahu, kenapa orang-orang menjuluki Bapak sebagai orang yang bijak dan baik hati".
==============================================
Dapat membuat kehidupan seimbang tentu akan mendatangkan keharmonisan dan kebahagiaan. Namun bisa membuat kehidupan menjadi seimbang, itulah yang tidak mudah.
Saya kira, kita membutuhkan proses pematangan pikiran dan mental. Butuh pengorbanan, perjuangan, dan pembelajaran terus menerus. Dan yang pasti, untuk menjaga supaya tetap bisa hidup seimbang dan harmonis, ini bukan urusan 1 atau 2 bulan, bukan masalah 5 tahun atau 10 tahun, tetapi kita butuh selama hidup. Selamat berjuang!
Sumber : andriewongso.com dan cerita motivasi

Rabu, 31 Oktober 2012

Cerita Inspiratif (Keyakinan dan Kepercayaan)


setelah bangun pagi dan mandi, aku mulai membaca kembali buku yang berjudul "karena kata adalah doa" kali ini aku ingin berbagi tentang arti sebuah keyakinan dan kepercayaan, menurut kamu apa sih kepercayaan dan keyakinan itu? keyakinan itu adalah hal yang paling penting dalam hidup, jika kamu percaya dan yakin bahwa hidupmu akan sukses maka kamu akan sukses begitupun sebaliknya, jika kamu merasa tidak yakin dengan hidupmu alhasil malapetaka akan menimpamu.

jika dihubungkan dengan cinta, cinta pula ada karena keyakinan dan kepercayaan kita terhadap orang yang kita cintai bukan? jika tidak ada keyakinan dan kepercayaan, bagaimana kita akan menjalin sebuah hubungan yang begitu spesial?

sama halnya dengan agama, kita percaya dan saya yakin kita semua percaya, sangat amat percaya bahwa agama ada karena kita percaya, kita menganut suatu agama karena kita percaya terhadap agama itu, lantas jika kita beragama tanpa ada keyakinan dan kepercayaan apa yang akan kita dapatkan dari agama yang kita anut sekarang?

kita bicara mengenai keyakinan dan kepercayaan, dan disini saya akan bercerita tentang kisah seseorang yang penuh dengan kepercayaan dan keyakinan.

suatu waktu di negeri cina ada sekelompok pasukan yang akan berperang dengan musuh yang jumlahnya 3 kali lebih banyak dari pasukannya, malah dari segi persenjataan pun lebih hebat, sang pemimpin pasukan tiba di sebuah kuil dan berdoa pada Tuhan "ya tuhan berikan kami keyakinan dan kepercayaan agar kami dapat mengalahkan musuh kami" karena si pemimpin percaya bahwa dia akan menang tentu saja dia harus meyakinkan pasukan yang dia pimpin juga, maka sang pemimpin itu keluar dan menemui psukan yang sedang ketakutan, dia berkata pada psukannya "pasukanku, aku telah mendapat petunjuk dari Tuhan, aku akan melemparkan koin yang aku pegang sekarang, jika yang muncul kepala naga maka kemenangan akan menjadi milik kita, tapi jika ekor naga yang muncul maka kita akan mengalami kekalahan yang luar biasa", tidak lama maka si pemimpin itu melempar sebuah koin, semua pasukan cemas melihat koin yang terapung dan mendarat, dan ternyata koin yang muncul di permukaan adalah kepala naga, maka si pemimpin berkata "Tuhan telah menunjukan lewat koin ini, bahwa kita akan mendapat kemenangan yang luar biasa, maka bersiaplah untuk berperang pasukanku! jangan gentar melihat musuh kita disana" karena pasukan itu yakin bahwa yang muncul bukan semata koin belaka, tiba-tiba mereka memiliki keyakinan dan semangat juang yang tinggi bahwa mereka akan menang, setibanya di medan perang semua pasukan itu bertarung dengan gagah berani mengalahkan semua musuh yang jumlahnya lebih banyak, dan akhirnya mereka memenangkan peperangan itu.

setibanya di kota, mereka disambut dengan gembira oleh sanak keluarga mereka, dan sang raja penasaran terhadap pemimpin pasukan perang itu lalu memanggilnya, "hai pemimpin! apa yang kau lakukan sehingga pasukanmu mendapatkan kemenangan yang besar itu!" lalu si pemimpin  menjawab "aku hanya memberikan ini paduka" sambil memberikan koin yang ia lempar di depan kuil dahulu sebelum berperang, lalu ia menambahkan "sebenarnya koin itu memiliki muka yang sama yaitu kepala naga, saya hanya memiliki keyakinan bahwa kita akan menang, dan ini taktik yang saya lakukan terhadap pasukan saya agar mereka tidak gentar".

nah, kawan-kawanku ternyata keyakinan itu sangatlah penting adanya, maka jika kamu yakin terhadap kemenangan yang akan kamu raih, maka itu akan kamu raih, jika kamu yakin dengan mimpi-mimpimu jadi nyata, maka hal itu akan jadi nyata berkat adanya keyakinan.

Senin, 29 Oktober 2012

Koran Haji Ema

 



 

Kini tiba saatnya orang-orang islam untuk menyambut satu kebahagiaan besar lagi setelah beberapa bulan lalu melewati gema takbir idul fitri, ya ini adalah waktunya berhaji beberapa orang sudah mendaftar dari bulan lalu bahkan ada pula yang sudah bertahun-tahun daftar untuk berhaji. Segala sesuatu sudah dipersiapkan bagi mereka yang sudah dapat akses berangkat menuju rumah Allah itu, ada juga beberapa orang yang sudah beberapa tahun menunggu keberangkatannya tapi belum dapat akses juga, entah bagaimana cara memilih orang-orang yang pergi haji itu di Negara kami tercinta ini. Beberapa hari ini pula sudah banyak berita di televise dan Koran tentang kisah-kisah haji malah semakin bermunculan acara-acara yang bertemakan haji, entahlah aku bingung dengan cara pandang mereka bagaimana, keinginan untuk berbagi ilmu atau hanya sekedar mencari profit semata.
Aku masih teringat di setiap sujud ema beberapa tahun yang lalu sebelum ia wafat di usia yang sudah renta, setiap selesai shalat ia selalu mengakhiri dzikirnya dengan membaca “labbaikkallah humma labbaik, labbaikkala sariikala kalabbaik, ya allah ijinkan hamba ini mencium harumnya rumahmu kelak” ya kalimat itu yang selalu membatku merinding ketika mendengarnya, impian ema yang suci itu selalu menjadi bulan-bulanan dalam pikiranku, sementara aku masih berusia 12 tahun tanpa mengenyam pendidikan sama sekali karena melihat kondisi kelaurga kami yang tidak memungkinkan aku untuk mengenyam pendidikan,  aku hanya dapat belajar membaca dari lembaran Koran yang aku jual di setiap pagi dan sore di lampu merah, aku hanya belajar dari setiap langkah yang aku tempuh bahwa aku kelak akan berhasil jika aku optimis.
Ema, sosok yang membuatku bangga akan hadirnya. Ia tak pernah mengeluh meski keadaan kami terpuruk. Tinggal di perkampungan kumuh yang jauh dari kota tidak membuat ia kikuk mengayuh kehidupan. Setiap pagi setelah sembahyang subuh ia cepat bergegas ke sawah bekerja dari pagi hingga petang, tak peduli usia yang sudah tua ia tetap semangat menjalani hidup, memang terkadang aku melihat raut wajah ema jika sedang melamun, rautnya mengandung kesedihan sejak ditinggalkan oleh abah beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan sewaktu pulang dari kota, aku terkadang selalu bosan melihat keadaan kami yang seperti ini, tak ada bantuan pemerintah untuk kami meskipun ada aku yakin ema tak akan mau menerimanya karena ia tak pernah mau hidup dari jerih payah orang lain, karena itulah satu-satunya alasan mengapa aku bersemangat! Ema! Ya aku melakukan semua ini karena ema, Cuma ema yang aku miliki.
Dengan penghasilan 20 ribu rupiah perhari ema menabung, berharap suatu saat ia dapat pergi haji menuju rumah yang di impikan semua muslim, diam-diam aku menyimpan sebagian hasil penjualan koranku untuk membantu ema, aku sedih melihat ema, aku kasihan padanya dengan penghasilan seminim itu ia harus dapat membagi rata untuk kehidupan kami sehari-hari. Aku masih melihat sajadah ema yang penuh dengan tambalan yang selalu menjadi alas untuk dia bersujud, aku masih melihat mukena ema yang sudah kusam dan beberapa bagiannya yang sobek, aku masih melihat cahaya lampu 5 watt sebagai penerang shalat ema dan penerang rumah kami, ah aku sudah tak sanggup untuk merasakan kesedihan yang ditanggung oleh ema.
Di setiap malam tiba aku selalu di ajak berbincang oleh ema, ia hanya bercerita tentang indahnya haji, indahnya pergi ke rumah Allah, hampir setiap malam ema selalu membicarakan hal yang sama padaku, sebelum tidur ema selalu berdoa yang mngucap kalimat mantra yang selalu ia sebutkan juga pada akhir shalatnya “labbaikkallah humma labbaik, labbaikkala sariikala kalabbaik, ya allah ijinkan hamba ini mencium harumnya rumahmu kelak” bukan hanya sebelum tidur, setiap ema akan melakukan semua aktivitasnya ema selalu membaca kalimat itu bangun tidur, pergi ke sawah, akan tidur, memasak, dan segala kegiatan ema selalu di selingi  kalimat doa itu.
Terpikir dalam benakku, aku harus mewujudkan impian ema, aku mau ema pergi haji! aku akan menabungkan semua penghasilanku untuk ema, aku ingin tahun depan ema bisa pergi haji meski aku yakin uangku takkan cukup membantu ema karena penghasilanku sebagai loper Koran hanya 10 ribu perhari. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk mengumpulkan uangku agar ema bisa pergi haji. mulai saat itu aku tak pernah jajan, aku tak pernah membelikan keperluanku untuk hidupku, aku tak memikirkan hidupku lagi karena buatku ema adalah segalanya.
Ini musim haji, banyak Koran yang menyediakan berita haji, aku ingin membuatkan ema kumpulan gambar ka’bah dan suasana haji dari Koran-koranku, aku ingin menggembirakan ema, aku susun gambar demi gambar untuk ema, aku buatkan bingkai untuk ema, dan akan aku simpan di depan sajadah ema agar ema merasa dekat dengan ka’bah, agar ema tak selalu bersedih dan mengeluarkan air mata ketika berujud. aku ingin memberikan kejutan pada ema, aku pulang dengan semangat aku berlari membawa tumpukan Koran yang sudah aku bingkaikan di tempatku bekerja, aku lari secepat mungkin sebelum ema dating terlebih dulu, tapi aku salah, aku terlalu terburu-buru di persimpangan jalan aku sontak kaget ketika sebuah truk pasir menabrakku dengan cepat! Seketika aku terjatuh, aku tak sadarkan diri semua orang mengerumuniku, tiba-tiba ema datang dengan tangisan penuh pilu, “kamu kenapa nak! Apa yang kamu lakukan pada anakku!” ema marah pada supir truk tapi aku masih tersadar dan menggenggam erat tangan ema “ema, sudahlah, bukan dia yang bersalah tapi aku! Maaf ma aku hanya ingin membahagiakan ema, aku buatkan bingkai ini untuk ema” aku berikan bingkai bergambar haji yang sudah patah berantakan karena terlempar truk. “ema, aku sudah kumpulkan uangku untuk ema berhaji, ambil saja di bawah tumpukan bajuku, maaf ma aku begini karena aku sayang ema! Aku tak ingin ema terus bersedih karena ingin berhaji”
“nak, kau terlalu berlebihan! Meskipun ema tak dapt berhaji tapi ema selalu bahagia karena mungkin hati ema sudah ada disana”
Aku mulai merasakan sakit yang sangat di bagian dadaku, tak terasa aku hilang, mataku mulai rabun tak dapat melihat apa-apa, aku melihat sosok berbaju putih menghampiriku dan seketika aku meninggalkan dunia ini.
Aku yakin, dengan sajadah bolongnya, dengan kusam mukenanya, ema bisa berhaji suatu saat nanti.